Sabtu, 13 Mei 2017

KIM Madiun Menuju Kota Ekonomi Kreatif, Produktif dan Inovatif



Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Madiun Menuju Kota Ekonomi Kreatif, Produktif dan Inovatif

Fakta Madiun – Sebagai lembaga sosial penyalur informasi, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Madiun melalui Dinas Kominfo semakin berbenah untuk meningkatkan sinergitas kegiatan dan kelembagaannya. Salah satu upaya pendukung yang dilakukan untuk memberdayakan anggotanya, dengan mengadakan acara Pembinaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Kota Madiun tahun 2017.

Acara yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Madiun digelar pada hari Rabu (12/4) di aula gedung Kelurahan Oro-Oro Ombo Kota Madiun, yang dihadiri oleh 50 Peserta yang terdiri dari Ketua KIM se-Kota Madiun dan pengurus Forum KIM Kota Madiun.

Tujuan diselenggarakannya pembinaan ini adalah dalam rangka persiapan menghadapi Lomba yang akan diikuti oleh KIM Kota Madiun di Tingkat Provinsi Jawa Timur dan tingkat nasional pada Tahun 2017, serta untuk pembaharuan data Pemetaan KIM Madiun agar sesuai dengan indikator kinerja kunci KIM yang sudah ditetapkan oleh Provinsi Jawa Timur.

Pada Tahun 2017 ini, KIM Citra Taruna Kenanga Kelurahan Winongo akan mengikuti Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK) pada Pekan KIM Provinsi Jawa Timur mewakili Bakorwil I Madiun, dan KIM Turi Ceria Indah Kelurahan Oro-Oro Ombo akan mengikuti ajang perlombaan tingkat Nasional Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT), yang sebelumnya menjadi juara lomba 10 program pokok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tingkat Provinsi Jawa Timur.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Kota Madiun, Iroh Sunirah sebagai salah satu pemateri menjelaskan Peran KIM sangat diharapkan agar mampu bersinergi dengan kegiatan PKK Kota Madiun.
“Peran KIM diharapkan mampu bersinergi dengan PKK dalam hal pemberdayaan masyarakat sebagai ujung tombak keberhasilan pembangunan. Sebagai sebuah organisasi yang berbasis keluarga, PKK dan KIM berusaha melakukan pembinaan dengan melakukan pembinaan keluarga yang berakhlak bagi generasi muda, dan untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya berbagai usaha ekonomi keluarga”, ujar Iroh.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pengelolaan Media Publik Diskominfo Kota Madiun, Juvita Rosa mengajak seluruh anggota KIM untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar anggota KIM agar kedepannya bisa lebih aktif dan mampu berkiprah di setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Madiun.

Lebih lanjut Suwarno, Lurah Oro-Oro Ombo menjelaskan terkait persiapan perlombaan KIM 03 (KIM Turi Ceria Indah)di tingkat Nasional, sudah mempersiapkannya dengan baik.
“Persiapan perlombaan KIM 03 ditingkat Nasional yang sudah dilakukan dengan diadakannya pembinaan umum yang dilakukan oleh wakil ketua tim penggerak PKK Kota Madiun yang didukung pula oleh Dinas terkait dan tentunya didukung sepenuhnya oleh Diskominfo Kota Madiun”, jelas Suwarno.

Dalam pembinaan ini diadakan pula pembekalan teknik dasar jurnalistik penulisan berita dan fotografi dengan menghadirkan pemateri dari dosen Universitas Merdeka (Unmer) Madiun, Fikri Hasan dan Maria Febriana Christanti. Febi menjelaskan tentang penulisan berita yang harus berdasarkan pada konsep 5W+1 H sebagai dasar penulisan. Sedangkan Fikri menjelaskan tentang dasar-dasar fotografi baik tentang angle pengambilan gambar dan caption berita yang pas untuk sebuah foto.KIM Srikandi Nambangan Lor

Selasa, 12 April 2016

SPONSOR SELAMAT DATANG DI KAWASAN NAMBANGAN LOR


UCAPAN SELAMAT & SUKSES

Mari warga Kelurahan Nambangan Lor
Sayuk sa Eko Projo ..... 
Bersatu dan Bergotong Royong untuk mewujudkan Lomba Green & Clean

Para Lansia RW. 8 dan RW. 9 Jl. Manyar Kel. Nambangan Lor Reuni di Monumen Kresek



KIM Srikandi, Keberadaan Monumen Kresek di Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun diharapkan dapat lebih hidup lagi. Tidak sekedar menjadi jujukan untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila setiap tahun saja. Tetapi juga menjadi destinasi sejarah bagi masyarakat luas yang ingin lebih dalam mengetahui pesan-pesan sejarah yang ditorehkan di Monumen ini.
            Kabid. Pariwisata Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Pariwisata ( Dinkoperindagpar ) Kabupaten Madiun, Isbani, tidak menampik kondisi Monumen Kresek setiap harinya cenderung sepi. Geliat pengunjung baru terlihat banyak jika sudah mendekati peringatan Hari Kesaktian Pancasila saja. Seperti halnya para Lansia dari Paguyuban Arisan Sepanjang Jalan Manyar tak mau ketinggalan dengan semangat jalan-jalan sambil menikmati keindahan alam menuju lokasi Monumen Bersejarah keganasan PKI saat itu, tutur Abas Nurdin ketua paguyuban. Memang perlu terobosan baru agar keberadaan Monumen Kresek itu bisa lebih representatif. Tidak lagi lesu seperti selama ini.
            Karena itu Dinkoperindagpar telah merencanakan untuk pembangunan panggung di dalam areal Monumen Kresek. Bermodal anggaran Rp. 120 juta dari Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2015 ini, panggung itu akan dibangun permanen dengan luasan sekira 8 x 14 meter. “Panggung itu nanti beralaskan paving dan dilengkapi dengan atap peneduhnya. Dibangun persis di sebelah baart monumen,” tukasnya.
            Setelah selesai terbangunnya, panggung itu bakal dijadikan salah satu fasilitas penunjang. Terlebih jika di kawasan monumen bersejarah digelar seremonial hiburan sewaktu-waktu. Untuk momen-momen tertentu, panggung itu bisa dijadikan tempat menggelar event. Seperti pagelaran musik ataupun diskusi. Sedangkan hariannya bisa menjadi tempat berteduh. Jadi wisatawan yang datang ke depannya bisa merasa lebih nyaman, imbuhnya.
            Sudah lama Pemkab. Madiun ingin memberikan sentuhan-sentuhan fisik di Monumen Kresek itu. Mengingat tinggal destinasi pariwisata itulah yang kini masih murni dikelola pemkab. secara keseluruhan. Sayangnya kontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD) dari Monumen yang menceritakansejarah kelam bangsa itu masih belum menunjukkan angka signifikan. “Makanya ini mulai kami urusisedikit demi sedikit. Secara bertahap pula mulai dilakukan pembangunan dan penyempurnaan. Semuanya tentu disesuaikan dengan kekuatananggaran daerah yang ada, imbuhnya.

Warisan Leluhur : Produk Batik Nambangan Lor



KIM Srikandi, Batik Khas Kota Madiun semakin memiliki karakter kuat. Seiring munculnya corak pada produk batik kreasi perajin setempat Sri Murniati, misalnya sengaja motif pecel komplit karena Madiun terkenal dengan Sambel Pecel. “Biar lebih dikenal masyarakat” ujar warga Jl. Halmahera itu, ( Jum’at, 2/10 ).
            Sesuai namanya MURNI – sapaan akrab Sri Murniati juga Perangkat Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo Kota Madiun, motif pecel komplit itu terdiri berbagai corak lazimnya kuliner ikon Kota Madiun tersebut. Mulai dari cabai, kembang turi, kacang panjang, kecambah, daun pepaya, kemangi hingga lempeng. “Memang motih yang saya ambil Kulupan Pecel,” tuturnya.
            Saran Pak Lurah Jemakir, kepada Bu. Murni yang juga perangkat Nambangan Lor terkenal dengan Jeruk Nambangannya, Murni juga terinspirasi untuk menciptakan corak batik Jeruk yang banyak tumbuh di Kelurahan Nambangan Lor itu dipadu dengan Bunga Melati diberi nama SEGER ARUM, Seger jeruknya Arum melatinya. Jeruk Nambangan juga khas kota Madiun, sedangkan melati melambangkan keharuman, jelasnya.
            Murni menekuni kerajinan batik, sejak belasan tahun silam. Bahkan dia tidak hanya memiliki galeri batik di rumahnya tapi juga telah mencetak generasi muda penerus budaya mulai dari karangtaruna, PKK Kelurahan bahkan ke Ibu-ibu Dasawiswa. Meski makin banyak jenis produk Fashion, batik buatannya tetap laris manis. Bahkan mampu menembus pasar luar daerah. Sementara, dalam sehari dia mampu menghasilkan 10 lembar batik dengan dasaran hitam dan 5 lembar dasaran putih.
            Satu lembar batik berukuran 2,5 x 1,15 meter dibanderol dengan harga bervariasi, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan pengerjaanya. Yang bahannya dari kain sutra dengan warna alam harganya bisa sempat 2,5 juta, ungkapnya.
            Sementara, bersamaan Hari Batik Nasional kemarin, Sanggar Batik yang dikelola Murni didatangi sejumlah warga termasuk ibu-ibu PKK. Tak hanya melihat berbagai motif batik, mereka sempat praktik langsung membuat produk yang oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia itu.